“dan tidak ada seorangpun dari kalian, melainkan mendatangi neraka.” (Qs. Maryam: 71)
Imam al-Ràzi dalam Mafàtìhul ghaibnya menyebutkan beberapa khilafiyah
antar ulama dalam mentafsiri ayat di atas, salah satunya adalah bahwa
semua orang -baik muslim atau kafir, orang yang taat atau banyak
maksiat- pasti akan masuk dalam neraka, tapi yang membedakan adalah
orang mukmin justru merasakan kenikmatan, mereka masuk neraka dengan
tanpa rasa takut, tanpa merasakan siksa
sama sekali, tapi justru suka ria dan bahagia, hal ini sama dengan
kejadian ketika nabi Ibrahim dilemparkan kedalam luapan api oleh Namrud,
si raja lalim.
Ar-Ràzi menguatkan pendapat ini dengan hadis nabi
yang diriwayatkan oleh jabir ra. Suatu ketika Jabir bertanya pada
Rasulullah perihal ayat ini, dan Rasulpun menjawab: “yang dikehendaki
dengan datang ya masuk, tidak terkecuali baik orang baik, atau orang
lalim kecuali memasukinya, hanya saja neraka terasa dingin dan tidak
membahayakan bagi orang-orang yang beriman hingga terdengar suara gaduh
karena mereka merasa dinginnya neraka”.
Al-Syàthiby mengungkapkan
bahwa setiap anggota tubuh yang digunakan untuk beribadah maka tidak
akan merasakan sengatan api neraka, seperti semua anggota yang digunakan
sujud.
“jauhilah api Neraka meski dengan (bersedekah) sekelumit Kurma” (HR. Al-Bukhàri Muslim)
Begitu dahsyatkah sengatan api neraka hingga Nabi menyuruh kita
menghindar darinya walau dengan hal sekecil apapun yang memungkinkan?
Jawabannya, JELAS dahsyatnya!!
Friday, 7 February 2014
Friday, 3 January 2014
10 HEWAN YANG TELAH DI JANJIKAN SEBAGAI PENGHUNI SURGA
Sebagai umat muslim sebenarnya hewan-hewan yang
telah dijamin masuk kedalam surga ini sudah tidak asing lagi. Namun terkadang
dan dengan berbagai alasan, yang jadi masalah adalah tidak semua orang mengetahuinya.
Nah, jadi tidak ada salahnya jika kali ini kami merangkumnya untuk anda
ketahui. Berikut 10 hewan yang telah dijanjikan masuk surga.
Untanya Nabi Muhammad SAW
Ketika kami bersama Nabi Muhammad SAW tengah berada
dalam sebuah peperangan. Tiba-tiba datang seekor unta mendekati beliau, lalu
unta itu berbicara.
"Ya Rasulallah, sesungguhnya si fulan (pemilik
unta) telah memanfaatkan tenagaku semenjak muda hingga tua seperti sekarang
ini. Namun kini ia malah hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu dari
keinginan si fulan yang hendak menyembelihku, Ya Rasulallah." Setelah
mendengar pengaduan sang unta, kemudian Rasulullah SAW memanggil sang pemilik
unta dan hendak membeli unta tersebut dari pemiliknya. Tapi apa kenyataannya? Orang
itu justru memberikan unta tersebut kepada beliau..
Unta itu pun dibebaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Juga
ketika kami tengah bersama Muhammad SAW, tiba-tiba datang seorang Arab
pedalaman sambil menuntun untanya. Arab baduy tersebut meminta perlindungan
karena tangannya hendak dipotong akibat kesaksian palsu beberapa orang yang
berkata bohong. Kemudian unta itu berbicara dengan Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak bersalah. Para saksi
inilah yang telah memberikan pengakuan palsu karena mereka telah dipaksa.
Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi."
Untanya Nabi Saleh
Kaum Nabi Saleh meminta lagi, “Coba kamu keluarkan
seekor unta dari batu besar itu,” kata mereka sambil menunjuk ke arah sebuah
batu besar sambil tersenyum sinis. Mereka juga telah menerangkan sifat-sifat
unta yang dikehendaki.
Kaum Tsamud cukup yakin bahwa Nabi Saleh tidak mampu
memenuhi permintaan mereka itu. Sebaliknya Nabi Saleh menjawab dengan tenang.
“Baiklah, sekiranya aku dapat memenuhi permintaan kalian,
apakah kalian akan beriman kepada Allah dan menerima ajaranku? Apakah kalian
akan mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”
“Baiklah, kami akan beriman kepada Allah dan akan
menerima segala ajaran kamu,” jawab mereka. Setelah sepakat, maka Nabi Saleh menunaikan
solat. Baginda memohon kepada Allah agar mengkabulkan permintaannya seperti
yang dituntut oleh kaum Tsamud. Baginda juga berdoa semoga kaum itu akan
kembali ke jalan yang benar selepas melihat bukti tersebut.
Allah Maha Berkuasa. Dengan sekedip mata saja Allah
telah mengkabulkan doa Nabi Saleh. Batu besar tadi telah merekah dan terbelah.
Lalu keluarlah seekor unta betina yang besar. Unta itu mempunyai semua sifat
yang disebutkan oleh kaumTsamud.
Maka, tercenganglah semua kaum Tsamud yang melihat
kejadian itu. Sebagian dari mereka mula-mula mengakui kenabian Nabi Saleh.
Salah seorang dari mereka ialah seorang pemimpin kaum Tsamud yang bernama Junda
bin Amru. Akan tetapi, sebagian yang lain masih enggan beriman. Mereka tetap
degil dan sombong.
Ikan Yang Memakan Nabi Yunus
Kemudian Nabi Yunus AS menaiki kapal yang dipenuhi
penumpang dan muatan. Ketika mereka berada di tengah-tengah lautan maka kepal
itu miring dan hampir tenggelam, dimana mereka harus mengambil salah satu
keputusan antara mereka tetap berada di kapal semuanya dengan resiko mengalami
kebinasaan, atau membuang sebagian dari mereka agar kapal itu menjadi ringan dan
menyelamatkan sisanya.
Namun akhirnya mereka memilih jalan yang terakhir
setelah menemui kesepakatan di antara mereka. Mereka melakukan pengundian dan
sejumlah penumpang terkena undian tersebut termasuk di dalamnya Nabi Yunus AS,
sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“… kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk
orang-orang yang kalah untuk undian.” (Ash-Shaffat: 141).
Yakni ia termasuk dari orang-orang yang kalah dalam
undian tersebut. Kemudian mereka pun melemparkannya ke laut, serta seekor ikan
besar menelannya, akan tetapi tidak sampai mematahkan tulangnya dan merobek
dagingnya.
Ketika Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan,
maka dalam keadaan gelap (dalam perut ikan) ia berseru:
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang Dzalim.”
(Al-Anbiya’: 87).
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada ikan itu
supaya memuntahkan Nabi Yunus AS di daerah yang tandus. Nabi Yunus AS keluar
dari perut ikan tersebut bagaikan anak burung yang baru keluar dari telur (baru
menetas) karena saking lemahnya. Kemudian Allah Ta’ala mengasihinya dan menumbuhkan
sebuah pohon dari jenis pohon labu baginya, dimana pohon itu meneduhinya,
sehingga ia kuat kembali.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Yunus AS
supaya kembali ke kaumnya, agar ia mengajari dan menyeru mereka, dan penduduk
negeri itu memenuhi seruannya sebanyak seratus ribu orang atau lebih, dimana
mereka beriman, sehingga Kami karuniakan kepada mereka keni’matan hidup hingga
batas waktu tertentu...
Anjingya Ashabul Kahfi
Menurut salah satu riwayat bahwa anjing tersebut
berwarna kuning, di surga bentuknya berubah menjadi kambing gibas.
Ia bernama Qithmir, ada yang mengatakan bernama
Tawarum dan ada yang mengatakan bernama Huban.
Anak Sapinya Nabi Ibrahim
kalau yang ini saya gak dapet kisahnya, hanya pas
saya cari dapet potongan surah adz-dzariyat seperti berikut.
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang
tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika
mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaama". Ibrahim
menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Maka
dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak
sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata:
"Silahkan anda makan." (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu
Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu
takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran)
seorang anak yang alim (Ishak).” (QS. Adz Dzariyat: 24-30)
Burung Hud-Hud Nabi Sulaiman
Pada suatu ketika, Nabi Sulaiman mengumpulkan dan
memeriksa seluruh pengikut-pengikutnya baik dari kalangan manusia, jin dan
binatang, termasuk burung-burung. Berdasarkan pemeriksaannya, Nabi tidak
melihat burung hud-hud.
Karena ketidak hadiran burung hud-hud tersebut,
beliau berjanji akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau bahkan
menyembelihnya.
Ternyata, tidak lama kemudian, burung hud-hud datang
menghadap Nabi Sulaiman. Burung hud-hud menjelaskan perihal keterlambatannya
karena mencari berita tentang adanya seorang wanita yang menjadi pemimpin suatu
negara dan dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Atas berita yang dibawa oleh burung hud-hud
tersebut, akhirnya Nabi Sulaiman mengunjungi kerajaan Saba yang dipimpin oleh
ratu Balqis yang akhirnya masuk Islam dengan dakwah Nabi Sulaiman. Kisah
tersebut diabadikan dalam Qur’an Surat An-Naml ayat 22-23.
Kisah tersebut menggambarkan burung hud-hud (sebagai
anak buah) yang mempunyai kecerdasan dan kecemerlangan berpikir sehingga
pengembaraannya dalam mencari makanan (nafkah) tidak semata untuk tujuan
duniawi melainkan untuk penyebaran agama. Burung hud-hud, di antara waktunya,
memanfaatkan kesempatan mencari berita dan kabar suatu kaum karena ia
berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka. Melalui presentasi
burung hud-hud yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan uzur
(keterlambatan), Nabi Sulaiman dapat mengajak kaum Saba untuk mentauhidkan
Allah.
Kambing Gibasnya Nabi Ismail
Nabi Ibrahim yang dikatakan memiliki kekuatan 40 kali
manusia biasa, dengan pisau yang tajam, maka menyembelih anaknya (Ismail) dan Allah
melihat kepatuhan Ibrahim.
Maka Allah mengirimkan malaikat Jibril untuk
menggantikan posisi Ismail dengan kambing gibas yang gemuk, dengan sekejap
saja, ternyata yang putus kepalanya adalah kepala kambing gibas dan Ismail pun
diselamatkan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa
Lillaahi Hamd. Dari peristiwa itu telah menjadi syari’at ummat Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk melaksanakan ibadah qurban...
Semutnya Nabi Sulaiman
Dan dikumpulkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin,
manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)
sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut.
“hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu
agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak
menyadari.” Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena mendengar
perkataan semut itu. Katanya.
“Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia untuk
mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua
orang tuaku, karuniakan padaku hingga di perbolehkan mengerjakan amal soleh
yang Engkau ridhai, dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu
yang soleh.” (An-Naml: 16-19) Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi
Sulaiman as bertanya kepada seekor semut.
“Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki
dari Allah dalam waktu satu tahun?”
“Sebesar biji gandum,” jawabnya. Kemudian, Nabi
Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol.
Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut.
Namun, didapatinya sisemut hanya memakan sebagian biji gandum itu.
“Mengapa engkau hanya memakan sebagian dan tidak
menghabiskannya?” tanya Nabi Sulaiman.
“Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada
Allah,” jawab si semut.
“Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa Dia tidak
akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau
akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji
gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Karena itu, aku harus tinggalkan
sebagian sebagai bekal tahun berikutnya.”...
Sapinya Nabi Musa
Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang diwahyukan
oleh Allah itu kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek karena akal mereka
tidak dapat menerima bahwa hal yang sedemikian itu bisa terjadi. Mereka lupa
bahwa Allah telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui mukjizat yang
diberikan kepada Musa yang kadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar untuk
diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat yang mereka hadapi dalam peristiwa
pembunuhan pewaris itu.
Kemudian berkata mereka kepada Musa secara mengejek:
"Apakah dengan cara yang engkau usulkan itu, engkau
bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan orang? Akan tetapi
kalau memang cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cobalah tanya
kepada Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan apakah
sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih sapi
yang harus kami sembelih?" Musa pun menjawab:
"Menurut petunjuk Allah, yang harus disembelih
itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai utk membajak
tanah atau mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada belangnya."
Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan kampung-kampung mencari sapi
yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya pada seorang anak yatim piatu
yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta
menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah anak yatim itu adalah seorang
fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yg tekun yang pada saat mendekati waktu
wafatnya, berdoalah kepada Allah memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yang
tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka
berkat doa ayah yang soleh itu terjual sapi si anak yatim itu dengan harga yang
berlipat ganda karena memenuhi syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh
Musa untuk disembelih.
Setelah disembelih sapi yang dibeli dari anak yatim
itu, diambillah ekornya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh mayat,
yang seketika ia hidup kembali dengan izin Allah, menceritakan kepada Nabi Musa
dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh saudara-saudara sepupunya
sendiri.
Demikianlah mukjizat Allah yang kesekian kalinya
diperlihatkan kepada Bani Israil yang keras kepala dan keras hati itu namun
belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan membangkang mereka atau
mengikis habis bibit-bibit syirik dan kufur yang masih melekat pada dada dan
hati mereka...
Khimarnya Nabi Uzair
Uzair bangun dari kematian yang dijalaninya selama
seratus tahun. Matanya mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia
melihat kuburan di sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahwa ia telah tertidur.
Ia kembali dari kebunnya ke sebuah desa lalu
tertidur di kuburan itu. Inilah peristiwa yang dialaminya. Matahari
bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih tertidur di waktu Dzuhur.
Uzair berkata dalam dirinya: “Aku tertidur cukup
lama. Barangkali sejak Dzuhur sampai Maghrib.
Malaikat yang diutus oleh Allah SWT untuk
membangunkannya bertanya:
"Berapa lama kamu tinggal di sini?"
Malaikat bertanya kepadanya:
"Berapa jam engkau tidur?" Uzair menjawab:
"Saya tinggal di sini sehari atau setengah
hari." Malaikat yang mulia itu berkata kepadanya:
"Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus
tahun lamanya." Engkau tidur selama seratus tahun. Allah SWT mematikanmu
lalu menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawaban dari pertanyaanmu ketika
engkau merasa heran dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang mati.
Uzair merasakan keheranan yang luar biasa sehingga tumbuhlah keimanan pada
dirinya terhadap kekuasaan al-Khaliq (Sang Pencipta). Malaikat berkata sambil
menunjuk makanan Uzair:
"Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang
belum berubah." Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti
semula di mana warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah
berlalu seratus tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah? Lalu
Uzair melihat piring yang di situ ia memeras buah anggur dan meletakkan di
dalamnya roti yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman
anggur itu masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula,
di mana kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur
dengan perasan anggur.
Uzair merasakan keheranan yang luar biasa, bagaimana
mungkin seratus tahun terjadi sementara perasan anggur itu tetap seperti semula
dan tidak berubah. Malaikat merasa bahwa seakan-akan Uzair masih belum percaya
atas apa yang dikatakannya. karena itu, malaikat menunjuk keledainya sambil
berkata:
"Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah
menjadi tulang-belulang)." Uzair pun melihat ke keledainya tetapi ia tidak
mendapati kecuali tanah dari tulang-tulang keledainya. Malaikat berkata
kepadanya:
"Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah
SWT membangkitkan orang-orang yang mati? Lihatlah ke tanah yang di situ
terletak keledaimu." Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu
lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai
berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang.
Malaikat memerintahkan otot-otot saraf daging untuk bersatu sehingga daging
melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, Uzair memperhatikan semua
proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan
rambut.
Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah
menjalani kematian. Malaikat memerintahkan agar roh keledai itu kembali
kepadanya dan keledai pun bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan
bersuara. Uzair menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut terjadi di
depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan
orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah
melihat mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair berkata:
"Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." Uzair bangkit dan menunggangi keledainya menuju desanya. Allah
SWT berkehendak untuk menjadikan Uzair sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada
masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran
kebangkitan dan hari kiamat.
Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia tidak
percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah dan
jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang ditemuinya.
Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. sebaliknya, ia pun tidak mengenali
mereka.
Uzair meninggalkan desanya saat beliau berusia empat
puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun. Tetapi
desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah telah hancur
dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru menghiasi tempat itu.
Itulah beberapa hewan yang telah dijanjikan sebagai
penghuni surga. Semoga artikel kali ini bisa menambah pengetahuan bagi anda
semua dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.
Amin, ya Robbal ‘alamin………
Thursday, 2 January 2014
Bukti al-Syaikh Ibn Taimiyyah RH Taubat dari Akidah al-Hasyawiyyah al-Hanabillah
Ini adalah nas kalam Syaikh Ibn Taimiyyah RH yang mengisyarahkan bahawa
beliau telah taubat dari akidah al-Hasyawiyyah al-Hanabilah dan kembali
kepada akidah Majority Ulama yang ada di zaman beliau, iaitu akidah yang
tidak menetapkan huruf dan suara terhadap kalam Allah. Juga akidah yang
bersih dan suci dari tasybih maupun tajsim. Diikuti juga dengan
manuscript untuk mengukuhkan perkara ini, seperti yang diriwayatkan di
dalam kitab Najmu al-Muhtadi oleh Ibn al-Mu'allim al-Qurasyi (w. 725 H).
Ini dikukuhkan dengan manuscript tulisan tangan sebagai berikut:
Subscribe to:
Posts (Atom)



