“dan tidak ada seorangpun dari kalian, melainkan mendatangi neraka.” (Qs. Maryam: 71)
Imam al-Ràzi dalam Mafàtìhul ghaibnya menyebutkan beberapa khilafiyah
antar ulama dalam mentafsiri ayat di atas, salah satunya adalah bahwa
semua orang -baik muslim atau kafir, orang yang taat atau banyak
maksiat- pasti akan masuk dalam neraka, tapi yang membedakan adalah
orang mukmin justru merasakan kenikmatan, mereka masuk neraka dengan
tanpa rasa takut, tanpa merasakan siksa
sama sekali, tapi justru suka ria dan bahagia, hal ini sama dengan
kejadian ketika nabi Ibrahim dilemparkan kedalam luapan api oleh Namrud,
si raja lalim.
Ar-Ràzi menguatkan pendapat ini dengan hadis nabi
yang diriwayatkan oleh jabir ra. Suatu ketika Jabir bertanya pada
Rasulullah perihal ayat ini, dan Rasulpun menjawab: “yang dikehendaki
dengan datang ya masuk, tidak terkecuali baik orang baik, atau orang
lalim kecuali memasukinya, hanya saja neraka terasa dingin dan tidak
membahayakan bagi orang-orang yang beriman hingga terdengar suara gaduh
karena mereka merasa dinginnya neraka”.
Al-Syàthiby mengungkapkan
bahwa setiap anggota tubuh yang digunakan untuk beribadah maka tidak
akan merasakan sengatan api neraka, seperti semua anggota yang digunakan
sujud.
“jauhilah api Neraka meski dengan (bersedekah) sekelumit Kurma” (HR. Al-Bukhàri Muslim)
Begitu dahsyatkah sengatan api neraka hingga Nabi menyuruh kita
menghindar darinya walau dengan hal sekecil apapun yang memungkinkan?
Jawabannya, JELAS dahsyatnya!!