Saturday, 28 December 2013

Belum Terlambat Sebelum Kiamat



BELUM TERLAMBAT SEBELUM KIAMAT
“ Warga NU Harus Pilih PKB “

Jika warga NU semuanya sadar untuk bersatu kembali ke rumahnya yang telah dibangun dengan susah payah, niscaya rumah tersebut menjadi rumah yang terbesar diantara rumah-rumah yang lain
Tetapi sangat disayangkan, sampai sekarang ini warga NU masih banyak berceceran tinggal di rumah-rumah orang lain. Jika warga NU tidak segera merapatkan barisan kembali ke rumahnya, maka sampai kapanpun NU selalu menjadi ma’mum.
Maka dengan kondisi seperti inilah saya terdorong untuk menyampaikan kepada warga NU khususnya dan ummat islam umumnya, sekelumit pemikiran dalam bentuk tulisan sesuai dengan keterbatasan saya untuk menjelaskan kewajiban sebagai warga NU dan warga-warga lainnya harus bagaimana dan harus kemana dalam menyalurkan aspirasi politik mereka.
Tulisan ini pernah saya sebarkan kepada kawan-kawan saya sesudah Pemilu 2004. Mereka memberi tanggapan positif tetapi disertai dengan penyesalan-penyesalan dalam bentuk pernyataan : “Saya menyayangkan sekali dengan tulisan ini, kenapa terlambat? Padahal kalau saja tulisan ini disebarkan sebelum Pemilu, maka sangat tepat.”
Maka semenjak itulah tulisan ini saya beri judul “BELUM TERLAMBAT SEBELUM KIAMAT”. Artinya masih banyak Pemilu-Pemilu yang akan datang.
PARTAI POLITIK DAPAT DIJADIKAN JEMBATAN UNTUK MENEGAKKAN SYIAR ISLAM
Mengapa warga NU tidak kompak untuk mendukung PKB ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa pendapat dari sebagian warga NU :
  1. Kekompakan warga NU untuk mendukung PKB itu tidak penting, yang sangat penting adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan uang, jabatan dan sebangsanya. Sehingga jika mereka di PKB akan mudah lompat pindah ke partai politik lain apabila tercopot dari jabatannya di PKB atau tidak terpilih dalam pencalonan kepengurusan di PKB.
  2. Partai politik itu ursan dunia bukan urusan agama. Oleh karena itu agama jangan dicampur adukkan dengan partai politik dan agama jangan sekali-kali dijadikan modal untuk kepentingan partai politik.
  3. Karena PKB tidak berasaskan Islam maka tidak perlu dipilih, yang perlu dipilih adalah partai politik yang berasaskan Islam.
  4. Ragu akan PKB. Benarkah PKB itu masih diakui sebagai partai politik yang dilahirkan oleh PBNU?? Karena PKB muncul ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, sedangkan sekarang sudah diganti oleh orang lain (pengurus baru)
  5. Anggapan bahwa berpartai politik itu bebas, tidak harus mendukung satu partai politik tertentu. Karena kita adalah Negara demokrasi, lagi pula surga itu tidak diperuntukkan hanya khusus untuk warga partai politik tertentu. Surga itu adalah tempat orang-orang yang taqwa, oleh karena itu silahkan pilih partai politik apa saja yang penting taqwa. Apalagi setelah NU khitthah, warga NU sangat-sangat bebas dalam berpolitik.
Untuk menanggapi pendapat-pendapat tersebut, penulis dengan kerendahan hati menjawab:
  1. Mari kita do’akan semoga mereka mendapat hidayah Allah SWT, sehingga mereka sadar dan mau merubah tujuannya yang semula hanya karena uang dan jabatan, menjadi tujuan yang tulus dan ikhlas semata-mata untuk berjuang menegakkan syi’ar agama Islam dengan melalui partai politik yaitu PKB. Karena hanya PKB-lah satu-satunya partai yang dilahirkan oleh NU untuk meraih kemenangan dalam Pemilu. Sehingga PKB dapat mewarnai system pemerintahan kita dengan lebih baik. Amiin.
  2. Memang berpartai politik itu urusan dunia, tetapi kalau tujuannya baik kenapa tidak jadi urusan akhirat? Simaklah sabda Nabi Muhammad SAW : “Berapa banyak perbuatan yang betuknya perbuatan dunia dengan niat yang baik menjadi perbuatan akhirat. Dan berapa banyak perbuatan yang bentuknya perbuatan akhirat kemudian menjadi perbuatan dunia sebab niat yang jelek”. Oleh karena itu, luruskan niat kita dengan niat yang baik sehingga setiap langkag dan gerakan kita dicatat sebagai amal shalih tidak sia-sia. Bahkan kemenangan agama dengan perjuangan melalui jalur partai politik akan besar manfaatnya dibandingkan kemenangan agama dengan melalui jalur lain, tetapi perlu diingat bahwa bahayanya akan jauh lebih besar jika kalah. Sejarah telah mengingatkan kepada kita dua Negara besar yaitu Rusia dan Spanyol. Islam pada waktu itu sangat maju dan pesat luar biasa sehingga bermunculan ulama-ulama besar disana seperti Imam Bukhari, Imam Muslim dan imam-imam lainnya dari Rusia. Sedangkan dari Spanyol yang dulu dikenal dengan nama Andalusia lahir Imam Ibnu Malik pengarang kitab Al-Fiyah dan ulama-ulama besar lainnya. Tetapi karena ummat Islam disana lengah dalam politiknya sehingga system pemerintahannya dapat direbut dan dikuasai oleh oaring-orang kafir, maka dalam kurun waktu relative singkat, ummat Islam dikikis habis dengan mudah. Semenjak itulah Rusia menjadi Negara komunis (Anti Tuhan/Atheis) dan Spanyol menjadi Negara Kristen sampai sekarang. Apakah anda rela Negara kita tercinta ini akan dijadikan korban seperti dua negara tersebut ???? Jika warga NU khususnya tidak segera merapatkan barisan, tetap; pada pendiriannya masing-masing dan tetap menjadikan uang dan jabatan sebagai tujuan utamanya, maka berarti rela untuk kehancuran Islam di Indonesia dan rela membiarkan generasi muda sebagai penerus bangsa menjadi korban narkoba yang merajalela yang sampai saat ini pemerintah belum mampu bertindak dengan tegas dan tuntas. Jadi, kalau masih terdengar ada kata-kata bahwa partai politik jangan dicapur adukkan dengan agama, lebih-lebih agama jangan dijadikan modal untuk kepentingan partai politik, perkataan seperti itu jelas keluar dari mulut orang-orang yang sengaja mau menghancurkan Islam. Karena partai politik yang sehat pasti diatur oleh agama, sehingga agama benar-benar menjadi dasar utama bagi partai politik tersebut. Sebaliknya partai politik, pejabat, pemuda, golongan dan Negara manapun jika lepas dari agama pasti akan terjadi hokum rimba, hokum sewenang-wenang, siapa yang paling kuat pasti akan menindas kepada yang lemah dan seterusnya. PBNU sengaja mendirikan PKB dengan asas Pancasila bukan dengan asas Islam, karena namanya partai politik itu akan di adu dengan partai politik lain sedangkan apa saja jika di adu pasti ada yang menang ada yang kalah. Sehingga apabila PKB kalah, maka yang kalah hanya PKB-nya saja, Islamnya tidak ikut kalah karena Islam tidak jadi asas PKB. Tetapi jika Islam dijadikan asas PKB, PKB-nya kalah maka Islamnyapun ikut kalah. Adapun seumpama PKB menang, bagi PBNU tidak sulit untuk mengganti asas PKB dengan asas Islam (jika dianggap perlu)
  3. Seluruh peraturan dan perundang-undangan yang sudah dibakukan dan mempunyai jaminan hukum sampai kapanpun akan tetap berlaku sekalipun kepengurusannya sudah digantikan oleh pengurus baru, terkecuali apabila terjadi kesepakatan dari organisasi NU melalui muktamar bahwa keputusan tersebut diamandemenkan. Selama PKB belum diamandemenkan, selama itu pula PKB menjadi partai politik yang sah. Adapun partai-partai Islam lainnya yang muncul dari warga NU, tidak disebut partai politik NU karena bukan dilahirkan dari organisasi NU,akan tetapi muncul dari pribadi-pribadi orang NU yang sengaja memperlebar pintu perpecahan dikalangan warga NU.
  4. Warga NU yang masih beranggapan bahwa warga NU bebas dalam berpartai politik dengan alasan kita hidup di negara demokrasi atau beralasan bahwa surga itu bukan milik sebuah partai akan tetapi surga adalah tempat orang-orang yang taqwa.
  5. Memang taqwa itu penting dan sangat penting, tetapi kekompakkan dan kebersatuan dalam mengikuti satu partai politik khususnya PKB sebagai wadah seluruh warga NU dalam menyampaikan aspirasinya untuk merebut kemenangan demi membela syi’ar aga Islam itu juga tidak kalah pentingnya. Karena kokoh dan majunya agama harus dengan kemenangan, dan kemenangan tidak akan tercapai tanpa dengan kekompakkan dan kebersatuan.
Jika masih ada warga NU yang tetap ngengkel dank eras kepala dalam pendiriannya bahwa berpartai politik itu bebas, maka sampai qiamat pun NU menjadi ma’mum. Danketahuilah bahwa orang-orang yang mempunyai pemahaman-pemahaman seperti itu adalah orang-orang yang telah dicekoki dengan sisa-sisa ajaran colonial Belanda (Van der Flash) agar ummat Islam jangan ikut campur dalam pemerintahan dan jangan menghimpun kekuatan dengan kekompakkan dan kebersatuan dalam satu partai politik. Van der Flash dan antek-anteknya menghendaki ummat Islam cukup diatur, ditindas dan bila perlu dibunuh.
Siapakah antek-antek dan anak cucu Van der Flash?? Orang-orang yang sudah dicekoki dengan ajarannya sebagaimana tersebut diatas dan merasa senang dengan banyak perpecahan dikalangan ummat Islam. Mereka sangat takut jika melihat ummat Islam/warga NU bersatu, mereka berusaha sekuat tenaga menggunakan segala macam cara melalui terobosan-terobosan keluar dan kedalam yang intinya ummat Islam/warga NU berantakan. Habis uang berapa milyarpun tidak masalah, kecil bagi mereka. Jika ummat Islam/warga NU tidak segera bangkit merapatkan barisannya, maka siap-siaplah, untuk selamanya menjadi maf’ul dan jangan berharap menjadi fa’il.
Pengertian demokrasi bagi bangsa dan negara bukan berarti bebas dalam melaksanakan segala aktifitas kehidupan, berbangsa, beragama dan bernegara tanpa batasan-batasan. Kebebasan itu selama tidak melanggar undang-undang, baik undang-undang negara atau Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Maka sangat-sangat keliru dan jelas-jelas salah jika orang mengartikan demokrasi itu dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya, ada peraturan tidak ada peraturan, ada larangan tidak ada larangan tetap bebas karena kita mempunyai hak asasi. Pemikiran-pemikiran semacam ini sama dengan pemikiran-pemikiran Van der Flash. Yang demikian itu jelas tidak dikehendaki oleh pemerintah kita dan jelas bertentangan dengan ajaran agama.
Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini :
“Apa-apa yang Aku larang kepadamu, maka jauhilah. Dan apa-apa yang Aku perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sekemampuan kamu” (HR. Bukhori Muslim)
Fahamilah firman Allah SWT, dibawah ini :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan para pemimpin dari golongan kamu” (QS. An-Nisa : 59)
Tersebut dalam tafsir Al-Bahrul Muhith jilid 3 halaman 290 dan tafsir Al-Khoozin jilid 1 halaman 550-551, bahwa kalimat “Para Pemimpin” dalam firman Allah SWT tersebut diatas mencakup beberapa penafsiran, antara lain :
  1. Ahli Fiqh dan Ulama ; menurut Ibnu Abbas dan Jabir
  2. Pemerintah dan Penguasa ; menurut Abu Hurairah
  3. Raja ; menurut Ali bin Abi Thalib
  4. Pimpinan Perang ; menurut Ibnu Abbas dalam riwayat lain
  5. Abu Bakar dan Umar ; dimasa hidupnya
  6. Sahabat Muhajirin Anshor dan pengikutnya ; menurut Atha
  7. Pimpinan Organisasi Islam untuk membawa pengikutnya dalam kebaikan ; menurut Azzajjad
  8. Suami bagi Isterinya ; menurut pendapat Ulama
  9. Tuan bagi sahayanya
  10. Kedua Orang tua bagi anaknya
  11. Orang yang mendapat wasiat untuk mengurus anak yatim
Dengan beberapa penafsiran diatas, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa bagi bangsa yang bernegara wajib taat kepada pimpinan negaranya (2), dan bagi warga yang berorganisasi wajib taat kepada pemimpinnya (7).
Dan yang dimaksud wajib taat kepada “Ulil amri dari golongan kamu” adalah tergantung dari golongan (organisasi) manakah mereka itu.
Jika mereka merasa menjadi :
  • WARGA NU, maka wajib taat kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sedangkan PBNU sudah mendirikan PKB, berarti seluruh warga NU WAJIB DAN FARDLU ‘AIN untuk mendukung PKB. Kalau tidak berarti KHIANAT.
  • WARGA MUHAMMADIYAH, maka wajib dan taat kepada Pengurus Pusat Muhammadiyah. Sedangkan Pengurus Pusat Muhammadiyah sudah mendirikan PAN, berarti seluruh warga Muhammadiyah WAJIB dan FARDLU ‘AIN untuk mendukung PAN. Kalau tidak berarti KIHANAT.
  • WARGA PERSIS, maka wajib taat kepada Pengurus Pusat Persis. Sedangkat Pengurus Pusat Persis sudah mendirikan PBB, berarti seluruh warga Persis WAJIB dan FARDLU ‘AIN untuk mendukung PBB. Kalau tidak berarti KHIANAT.
QS. An-Nisa ayat 59 tersebut berlaku untuk umum tidak pandang bulu, berlaku untuk kyai, ustadz,pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya selagi mereka masih mengakui dirinya sebagai warga NU atau warga Muhammadiyah atau Warga Persis, WAJIB dan FARDLU ‘AIN mendukung dan memilih partai politiknya masing-masing. Kalau tidak, mereka berarti KHIANAT. Sekalipun mereka adalah pengurus dari organisasi-organisasi tersebut (Jika tidak mendukung partainya berarti khianat).
Apalagi warga NU yang dengan sengaja mendirikan partai Islam lain yang ganya membingungkan ummat dan memperlebar pintu perpecahan dikalangan warga NU, maka patutlah mereka disebut “gembongnya khianat”. Demikian juga bagi warga Muhammadiyah dan warga Persis yang seperti itu, maka mereka pun sama (patut disebut “gembongnya khianat”).
Dengan pengertian ayat tersebut itu berlaku untuk umum, siapa saja, kapan saja, bahkan berandaikan bagaimanapun masuk dalam pengertian ayat tersebut, maka :
  1. Seandainya Hadratusy Syaikh Kyai Hasim Asy’ari sekarang hidup lagi dan beliau masih tetap merasa bahwa dirinya NU,kemudian tidak dukung PKB. Maka Kyai Hasim Asy’ari KHIANAT terhadap NU.
  2. Seandaninya malaikat Jibril turun ke bumi dan diberinya sifat-sifat manusia oleh Allah SWT sebagaimana malaikat Harut Marut dahulu, lalu malaikat Jibril sowan ke PBNU (KH. Hasyim Muzadi). Beliau berkata kepada Pak Kyai Hasyim : “Pak Kyai! Saya malaikat Jibril”, seketika itu Pak Kyai HAsim kaget dan bertanya kepadanya “Ada perlu apa malaikat?”. Malaikat Jibril menjawab “Saya perlu menyampiakan pernyataan untuk menjadi warga NU”. Pak Kyai Hasyim dengan sangat bangga menerimanya. Eh… ternyata malaikat Jibril tidak dukung PKB, maka malaikat Jibril berarti KHIANAT terhadap NU.
Perbedaan antara NU, Muhammadiyah dan Persis, yaitu ;
  1. NU adalah organisasi kebangkitan para kyai dan ulama untuk melanjutkan perjuangan-perjuangan ulama-ulama terdahulu dan perjuangan Wali Songo dengan mengikuti faham Ahlussunnah wal jama’ah dalam pengamalan syari’at Islam dan menganggap bahwa pengamalan Tahlilan, Marhaba dan Ziarah Qubur termasuk perbuatan yang sangat baik.
  1. MUHAMMADIYAH dan PERSIS menganggap ketiga amalan yang diamalkan oleh NU adalah perbuatan sesat (bid’ah dlalalah) atau dengan kata lain kurang suka terhadap ketiga amalan yang diamalkan oleh warga NU.
PENGERTIAN KHITTAH
Banyak yang mengartikan khittah dengan pengertian bahwa warga NU bebas dalam berpartai dan NU tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana. Kata-kata seperti itu sudah kesiangan.
Arti khittah yang sebenarnya yaitu : Keputusan muktamar tahun 1984 di Situbondo Jawa Timur, bahwa NU keluar dari partai politik praktisd, NU kembali sebagaimana NU 1926. setelah keluar dari partai politik dan belum sempat mendirikan partai politik utuk warganya, maka dengan sangat terpaksa warga NU berada dimana-mana, apakah ma uterus ngontrak di rumah orang lain? Sedangkan sekarang sudah punya rumah sendiri. Kalau NU membiarkan warganya kemana-mana, kenapa susah-susah membuat rumah?.
Dahulu ketika partai NU digabung dengan partai-partai politik Islam lainnya yaitu PPP (baca: partai gabungan), ulama NU mewajibkan kepada seluruh warga NU untuk memilih PPP. Kenapa sekarang setelah punya rumah sendiri, malahan lebih suka nebeng di rumah orang lain? Sungguh aneh dan ajaib.
Semoga kita semua senantiasa mendapatkan taueiq dan hidayah dai Allah SWT sehingga warga NU khususnya dan ummat Islam pada umumnya yang masih ada diluar segera merapatkan barisannya untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Mudah-mudahan kita mampu dan kuat dalam melaksanakan Pemilu dengan menyalurkan aspirasi kita yang murni, bukan aspirasi yang terombang-ambing oleh pengeboman-pengeboman uang dari oknum partai-partai tertentu dengan iming-iming lainnya untuk kepentingan sesaat, sehingga jngan terjadi mana diantara ledakan-ledakan bom yang paling dahsyat itulah yang menentukan aspirasi mereka.
Demikianlah kondisi mayoritas bangsa Indonesia p[ada umumnya,mereka belum mampu melaksanakan Pemilu dengan jernih.mereka sebatas mampu menerima uang, sehingga uanglah yang menetukan arah mereka.
Semoga kita menajdi warga yang mampu unruk melaksanakan kewajiban dan sanggup menentukan kesebuah partai politik pilihan dengan penuh keyakinan bahwa partai politik inilah yang WAJIB dan FARDLU ‘AIN didukung oleh kita, sehingga dalam keaqdaan bagaimanapun kita tidak akan bergeser setapakpun walau dari kanan kiri penuh dengan hembusan-hembusan angina topan yang sangat kencang. Amiin.


KESIMPULAN
Siapapun pengurus PKB dan bagaimanapun kondisi para pengurus PKB, Warga NU Wajib dan Fardlu ‘Ain Pilih PKB karena ulil amri warga NU adalah PBNU, sedangkan partai politik yang secara resmi di dirikan oleh PBNU adalah PKB.
Jika Warga NU tidak memilih PKB, berarti khianat kepada PBNU dan maksiat kepada Allah SWT.. Na’udzu billah…



PENULIS
KH. USHFURI ANHSOR




Pengasuh Ma’had Al-Ishlah
Desa Jatireja Kec. Compreng
Kabupaten Subang – Jawa Barat
Tempat Lahir :  Subang
Tanggal Lahir : 4 Juli 1942
Pendidikan :
  • ND Buntet PesantrenPGA Buntet Pesantren (Pimpinan KH. Mustahdi Abbas)
  • Pesantren Lirboyo (Pimpinan Kyai. Mahrus Aly)
  • Pesantren di Blitar (Pimpinan KH. Ikhsan)

Aneka Nafsu dan Penjelasannya


Siapapun orangnya, tak bisa mengingkari bahwa dirinya sudah terlepas dari nafsu.

Nafsu tidak bisa terlepas dari diri kita. karna Nafsu adalah anugrah yang Allah berikan kepada umat Manusia. dan yang harus kita ketahui adalah:
Masing-masing Nafsu yang di miliki manusia itu berbeda-beda dan bertingkat dari tangga satu menuju tangga-tangga selanjutnya.

Sedikit kami paparkan Aneka macam Nafsu berikut Penjelasannya:

Amarah
adalah nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat sesuatu diluar pertimbangan akal yang tenang sehingga tidak membedakan mana yang benar, mana yang salah dan mana yang baik dan buruk.
nafsu ini hanya di miliki mereka yang berbangga apabila membuat sesuatu kemunkaran juga selalu bermaksiat di mata dan di hatinya. dan tidak di ragukan lagi, mereka adalah golongan Ahli Neraka.

Lawamah
adalah nafsu yang sudah punya kesadaran sehingga seseorang yang terlanjur berbuat salah atau tercela, tersadar lalu menyesali diri atau merasa berdosa (Nafsu ini berdiri antara Amarah dan Muthma'inah)
nafsu ini biasanya di miliki oleh orang yang masih mau beramal, akan tetapi masih ada riya, hasut, dengki dan sebagainya. mereka masih tetap melakukan nafsunya walau mereka tahu itu salah.
mereka juga termasuk golongan Ahli Neraka.
Muthma'inah
adalah nafsu yang sudah didominasi dan di kuasai iman lantaran sudah begitu masak oleh pengalaman dan gemblengan badai derita, sehingga mampu dan terampil memilah yang hak dan yang bathil. Nafsu ini tetap dingin dan tenang. dan Muthma'inah ini memiliki dua sayap.
  1. Sabar (di saat ia mengahadapi cuaca kelam dan kesulitan)
  2. Syukur (di saat ia jaya dan makmur)
disini perlunya iman dan dzikir. dan yang memiliki nafsu muthma'inah ini biasanya adalah orang-orang shaleh

Musawalah
adalah nafsu yang bebas melakukan apa saja yang sedang di inginkannya, karna ia sudah mampu untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.

Radhiyah
adalah nafsu yang menginsafi apa yang di terima dan menyatakan rasa syukur dalam menerima Ridha Allah.
orang yang sudah sampai ke derajat nafsu Radhiyah, biasanya bisa dilihat melalui caranya berusaha melatih diri untuk mencintai Allah sepenuhnya. namun bukan dalam bentuk main-main seperti kita-kita ini.
mereka biasanya bergaul dengan orang banyak, akan tetapi hatinya selalu tertuju kepada Allah.
biasanya mereka disebut sebagai Wali Allah

Mardhiyah
adalah nafsu yang senantiasa pasrah akan Ridha Allah
Ridha tersebut terlihat pada anugrah yang diberikan-Nya. seperti senantiasa berdzikir, ikhlas, memiliki karomah, dan memperoleh derajat kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah SWT itu bersifat universal,
artinya jika Allah memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya,
demikian pula sebaliknya orang yang dihinakan oleh Allah SWT, siapa pun tidak bisa memuliakannya

Kamilah
adalah unsur jiwa yang memiliki kesempurnaan, baik kulit isi, lahir, bathin dan seluruh anggotanya.
dan nafsu yang satu ini hanya di miliki oleh para Nabi dan Rasul

Nasihat untuk para Santri

images

Sebelum K.H. Marzuqi Dahlan wafat, beliau sempat menyampaikan tiga nasihat dan beliau wasiatkan nasihat itu kepada sanak keluarga, para pengurus, guru-guru, dan seluruh santri Pondok Pesantren Lirboyo untuk tetap menjunjung tinggi.
1. Semua tata tertib dan peraturan pondok pesantren hendaknya ditegakkan dan dipatuhi dan jangan sekali-kali diubah.
2. Semua santri harus tetap tekun belajar dan mempertinggi himmah karena demikian itu berarti sadar dan mau menghidupkan budaya belajar ala pondok pesantren.
3. Beliau amat keberatan jika ada santri yang mengalami musibah atau cobaan hidup lantas mengubah keikhlasan niat menuntut ilmu, bimbang atau bahkan berbelok menjadi keduniawian.

Have seem them ( Wahhabi adherents in Indonesia ) was more clever


Increasingly they have seemed to feel more clever than the Haafiz , the Imam , the former scholars who follow the Messenger by following the schools of the four Imams . Also feel more intelligent and the jurists who are members of the Indonesian Ulema Council .
Allah Almighty has said that a solution if we quarrel because of different opinions about something then follow and obey local amri ulil that the jurists who faqih in understanding the Qur'an and Sunnah .
Word of Allah Ta'ala which means " O ye who believe! Ta'atilah ta'atilah Apostle of Allah and ( His ) , and ulil amri among you . Then if you differ on something , then return it to the God he ( Al - Quran ) and Prophet ( Sunnah ) , if you truly believe in Allah and the Last Day . That is good (advantageous ) and better in the end " (Surat an-Nisa [ 4 ] : 59 )
Who ulil amri which must be obeyed by the Muslims ?
Prophet sallallaahu alaihi wasallam is the figure of scholars and umara at once . So did the first four caliphs as Sayyidina Abu Bakr , Sayyidina Umar , Sayyidina Sayyidina Ali Ustman and radhiyallahuanhum , as well as some of the descendants of the Umayyad caliphs and Bani Abbas.
However, in the subsequent development of Islamic history , very rarely do we get a state leader who truly understand about Islam . From here , start to separate between scholars and umara .
Ibn `Abbas as stated by Imam Thobari in his commentary has said that ulil amri which is adhered to fiqh experts or scholars who master the laws of God .
The terms or competence that includes the master scholars of fiqh ( Islamic law ) is as presented by KH . Muhammad Nuh Addawami as follows ;

***** Early Quotes *****
a. Knowing and mastering the Arabic language deeply , because the al - Quran and as- Sunnah God descended and delivered the Prophet sallallaahu ' Alaihi Wasallam in Arabic that fushahah and balaghah high quality , broad and deep understanding , containing the law that must be accepted . Needs to be known and mastered not only the meaning of the language but also the sciences concerned with the Arabic language is like nahwu , sharaf , balaghah ( Ma'ani , parrots and badi ' ) .

b. Knowing and mastering the science of usul fiqh , because if not , how could dig the law is good and true of al - Quran and as- Sunnah whereas not master nature lafad - lafad in al - Quran and as- Sunnah were diverse , each of which affect the laws contained in it as there lafadz nash , there lafadz dlahir , there lafadz mijmal , there lafadz parrots , there lafadz muawwal , there is a common , nothing special , nothing mutlaq , there are muqoyyad , there majaz , there lafadz kinayah besides lafadz nature . There is also Nasikh and mansukh and so forth .

c. Knowing and mastering the argument of ' harmonizing ' argument aqli Naqli especially in matters yaqiniyah qath'iyah .

d. Knowing that Nasikh and the mansukh and know asbab an- nuzul and asbab al - wurud , knowing that mutawatir and Munday , both in the Koran and the Sunnah . Knowing valid and others and know the narrator as- Sunnah .

e. Knowing that other sciences that relate to the procedures of the legal digging the Koran and the Sunnah . 
For those who do not have the capabilities , requirements and means to explore the laws of the al - Quran and as- Sunnah in ijtihadiyah problems when he wants to accept the minutes of the Prophet sallallaahu ' Alaihi Wasallam intact and kaffah , then there is no other way except to taqlid mujtahid can be accounted ability .

Among the mujtahid who madzhabnya mudawwan is four mujtahid imams , namely : 
Imam Abu Hanifa Nu'man bin Thabit ;
Imam Malik ibn Anas ;
Imam Muhammad ibn Idris ash- Shafi'i , and
Imam Ahmad ibn Hanbal . 

Forbid taqlid and ijtihad or ittiba oblige ' in the sense of following the opinion of people with know their arguments against ordinary people ( who are not experts istidlal ) is false and misleading fatwas that would damage the joints in the life of this world . 
Advancing the argument of the fatwa against ordinary people are not the same as moving it forward . ( see ad- Dimyathi Hasyiyah ' ala Sharh al - Waraqat it 23 in row 12 ) . 
If the layman accept their argument that suggests the fatwa he tantamount to the lay person who does not accept the Fatwa with arguments presented . In a sense they are both muqallid , equally taqlid and memerima without knowing the opinions of their argument . 
The so-called muttabi ' " not muqallid " in terms istidlal ushuliyyin is an expert ( mujtahid ) who received the opinions of others because he is as expert istidlal with all the ability to know the opinion of that person 's argument . 
As for those who accept others 'opinions about a fatwa to listen or read the arguments of the opinion of the receiver when it is not or does not include expert istidlal then he does not include muttabi ' which has been freed from the bonds of taqlid . 
In short ittiba meaning ' who is actually in terms of ijtihad is a mujtahid ushuliyyin follow another mujtahid ijtihad . 

***** End quote *****

Therefore, after the Imam 's school life is four , the mufti of the people to make the faqih fatwa always refer to one of the four Imam 's school . 
Allah ta'ala says which means "People who earlier again first thing ( to Islam ) from the class of Emigrants and Helpers and those who followed them with good , Allah be pleased with them and they pleasure to God and God to provide for their gardens with rivers flowing in it for ever . They will abide therein . That's a great victory " . ( Surah at Tawbah [ 9 ] : 100 ) 
Of the Word we can know that those blessed by Allah Almighty are those who follow Salafush Sholeh . While the people who follow Salafush Sholeh earliest and foremost is that four schools of Imam . 
Indeed, there is a school other than the school of Imam but in reality four scholars who have knowledge and dirayah riwayah School of Imam others have found difficult in the present . 
Surely we follow or taqlid to the school of the four Imams with reference to the Qur'an and Sunnah . The school of the four priests ought to be followed by the Muslims because jumhur scholars have agreed on the past and present as competent scholars as Absolute Mujtahid Imam , or leader of ijtihad imams and Muslim istinbat . 
Another plus , Imam sect which four are still met with Salafush Sholeh . 
For example, Imam Shafi ' i ​​~ vol ~ is a fairly wide school of priests insight as to meet or bertalaqqi ( Koran ) directly to Salafush Sholeh from a variety of places , ranging from the first residence in Makkah , then moved to Medina , moved to Yemen , moved to Iraq , moved to Persia , returned to Makkah , from here moved to Medina and finally to Egypt . It should be understood that his transfer was not for trade , not for tourists , but to seek knowledge , seek the hadiths , for religious knowledge . So do not be surprised if Imam Shafi'i ~ rahimahullah ~ get more of their oral traditions Salafush Sholeh , in excess of that obtained by vol Imam Hanafi and Imam Malik ~ rahimahullah ~ 
The school of the four Imams were pious scholars from among " the people who brought the hadith " which took him from Salafush Sholeh who narrated and follows the Sunnah of the Prophet sallallaahu alaihi wasallam 
So if we want ittiba li Prophet ( follow the Prophet ) or follow Salafush Sholeh then we meet and bertalaqqi ( Koran ) with the pious scholars from among " the people who brought the hadith " . 
The pious scholars from among " the people who brought the hadith " is the pious scholars who follow one of the four Imams School .
The pious scholars who follow the School of the four Imams were pious scholars who have sanad interconnectedness of science ( teacher sanad ) Imam School with the four or the pious scholars who have knowledge and dirayah riwayah of the four Imams School .
So bermazhab with the schools of the four Imams is a necessity for the Muslims who no longer met the Prophet and Salafush Sholeh .
The people who left the school of the four Imams are often express opinions like " we have to follow the hadeeth . Not follow scholars . Al - Imam Al - Shafi'i himself said , " al - hadith shahha Idza fahuwa mazhabi ( if it is a saheeh hadeeth , the hadeeth that mazhabku ) " .
Many people who do not understand the words he correctly . So , if she found an authentic hadith which, according to their understanding contrary to the opinion of the respective Shafi implies that the opinion that school was not true , as Imam Shafi'i himself said that the hadeeth is his sect . Or when someone finds a saheeh hadeeth , is concerned directly claimed , that this is Shafi .
Imam Al - Nawawi agreed with his teacher and said , " ( Speech of Al - Shafi'i ) is only for people who have reached a degree of Mujtahid schools . Condition : it must be assured that al - Shafi'i hadith do not know it or do not know ( status ) validity. And this can only be done after reviewing all the books of Al - Shafi'i and his students books . This condition is very severe , and very few people are able to fulfill . They require this because al - Shafi'i often leave a hadith which he encountered as a result of defects in it , or mansukh , or ditakhshish , or ditakwil , or other causes . "
Al - Nawawi also reminded Ibn Khuzaimah speech , " I do not find an authentic hadith but does not mention al - Syafii in their books . " He said , " The greatness of Ibn Khuzaimah and priesthood in the hadith and fiqh , and will penguasaanya utterances Al - Syafii , very famous . " [ " Majmu ' Sharh al - Muhadzab " 1/105 ]
Let us remember that hadith terbukukan in the books of hadith number is far below the amount collected and memorized hadith by Al - Haafiz ( minimum 100,000 hadith ) and much smaller than the amount collected and memorized hadith by Al - Hujjat ( at least 300,000 hadith ) . While the amount collected and memorized hadith by Imam School is four , the number is greater than the amount collected and memorized hadith by Al - Hujjah
Ash- Shaykh Abu Amr said : " Anyone who met on a hadith that Shafi'i sect contrary to him , if you 've reached the absolute mujtahid degrees , in the chapter , or the issue , so please practice it "
Neither the Shia Zaidiyah considers the need for continuity of ijtihad . In that sense , the doors of ijtihad must be opened as wide .
They argue with the opinion of Imam Syaukani : " Someone who only rely on taqlid ( following a particular view ) all his life will never ask the original source of" Qur'an and Hadith " , and he just said to the leader of his school . And people are always asking the original source of Islam is not categorized as Muqallid ( followers ) " .
Zaydiyya , initially triggered by Imam Zaid bin Ali bin Hussein bin Ali bin Abi Talib .
But those who claim to be the Shiite Zaidiyah at present essentially no longer purely follow Zaydiyya .
One Zaydiyya scholars , Imam Ahmad as- Syarafiy ( d. 1055 H ) asserts that : " Shiites Zaidiyah divided into three groups , namely : Batriyah , Jaririyah , and Garudiyah . And supposedly there are sects divide Zaidiyah to : Shalihiyah , Sulaimaniyah and Jarudiyah . And the view is basically the same as Shalihiyah Batriyyah view . And the fact is Jarririyah Sulaymaniyah sect . So the third sect is Zaydiyya Shiite factions in the early era . Even this third sect is not affiliated to the Ahlu Bait offspring at all . They merely advocate imam Zaid weight when the revolution against the Umayyads , and they present with Zaid priest " .
According to Dr. . Samira al - Mukhtar in his Laitsi ( Jihad as- Shiite ) , three sect is a Shi'ite group Zaydiyya in the reign of the Abbasid . And the majority of them took part in the revolution imam Zaid . And the third sect considered to be the most progressive and popular and growing rapidly at the time . And after the second century , the Shiite movement Zaidiyah which appears on the surface only Garudiyah sect . This is because no discovery of the views ascribed to other Zaidiyah Shiite sect .
In essence they are no longer following Zaydiyya founders , they follow the results of ijtihad their own priests .
Neither sect of descendants of the Prophet sallallaahu alaihi wasallam grandson Imam Ja'far as - Sadiq ra . He is a recognized expert mujtahid and Sunnah . The Islamic world does not recognize the ability and not the greatness of Imam Ja'far as - Sadiq ra as mujtahidin , because in addition to the Islamic thinker who has high dignity in the level of knowledge , he was classified as a pious scholars . However, the students ignore the efforts of his teacher , so was unable to keep the results of their work , so kemutawatiran sanadnya no longer maintained .
They misunderstand the words of Imam Syaukani limited for anyone who is able to reach the level of mujtahid
In the paper , Prof. http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/10/20/tetaplah-sebagai-ormas/ that . Dr. Yunahar Ilyas , Lc , MA delivering the slogan " Muhammadiyah not Dahlaniyah " means simply a social organization, Muhammadiyah or terminal congregation of Muslims is not a sect or firqoh that follows understanding KH Ahmad Dahlan as KH Ahmad Dahlan as the majority of Muslims ( as- sawadul a ' zham ) in the present follow the Prophet sallallaahu alaihi wasallam by following the four Imams School .
So when a Muslim congregation terminal or a Muslim group or an organization sets out to follow one's understanding or comprehension of a council of the group to the Qur'an and the Sunnah and not competent as an expert Imam or Mujtahid Absolute istidlal then transformed into a sect or firqah .
Prophet sallallaahu alaihi wasallam has warned us that if we find a disagreement over differences so follow the majority of Muslims ( as- sawadul a'zham ) and avoid all the sects or firqoh menyempal out ( kharaja ) of the majority of Muslims .
Prophet sallallaahu alaihi wasallam said : " Allah does not raise above my ummah astray . And the hand of God with the congregation . Anyone who distort ( menyempal ) , then he strayed ( menyempal ) to hell " . ( Narrated by Tirmidhi : 2168 ) .
Al - Haafiz Ibn Hajar rahimahullah in XII/37 Fathul Bari Imam Tabari rahimahullah quoting words which states : " Saying people ( ie the scholars ) , that the congregation is as- sawadul a'zham ( Muslim majority ) "
Prophet sallallaahu alaihi wasallam said " Verily my Ummah will not agree on error. Therefore , if you see a dispute then follow as- Sawad al a'zham ( the majority of the Muslims ) . " ( HR.Ibnu Majah , Abdullah bin Hamid , at Tabarani , al Lalika'i , Abu Nu'aim . According to Al Haafiz As Suyuti in Jamius Shoghir , this is Saheeh hadith ) .
At the present time the majority of Muslims ( as- sawadul a'zham ) is for anyone who followed the Prophet sallallaahu alaihi wasallam to follow the pious scholars who follow the school of the four Imams .
The nature feel more clever is one hallmark of the likes of Dhul Khuwaishirah of Bani Tamim Najed population . Because they feel more clever than the others so that they menyempal out ( kharaja ) of the majority of Muslims ( as- sawadul a'zham ) and called the Khawarij . Khawarij is plural ( plural ) of kharij ( isim shape file ) means that out .
Of al Azroq bin Qois , Syarik bin Shihab said , "I hope to meet with one of the companions of Muhammad who could tell me the hadith about the Khawarij . One day I met Abu Barzah who was with a group of the Companions . I berkatakepadanya , " Tell me you heard the hadith of the Messenger of Khawarij " . He said , "I'll tell to you a hadith which itself heard by both ears and seen by my eyes . " Some of the dinar submitted to the Prophet and he split it . There is a shaved head and no black former prostrate between the eyes ( on his forehead ) . He wore two pieces of white cloth . He came to the Prophet from the right with the expectation that the Prophet gave him a dinar , but he did not give . He then said , "O Muhammad this day you do not divide equally" . Hearing his words , the Prophet was furious. He said , " By Allah , when I die you will not find a more equitable than myself " . Thus he repeat three times . Then he said, " Going out of the east the people who like the look of them. He was part of them . They read the Qur'an , but the Qur'an does not pass their throats . They darted from the religion as an arrow shot from the target animal after going through it and then they do not return to the religion . " (Reported by Ahmad, no 19798 )
Ahmad ash showi said , " It is not intended by the verse ( Surah Al- Fath [ 48 ] : 29 ) is the act as fools and artisan riya ' is a black mark on the forehead because that is the hallmark of Khawarij " ( Hasyiahash Shawi 4/134 , Dar al -Fikr )
Of Mansur , I asked Mujahid regarding the intent of the word of God , ' the signs they appear on their face from the former prostration ' ( Surah Al Fath [ 48 ] : 29 ) What that means is the former in the face ? He answers , "No , there is even a ' ship ' that is between his eyes is like a " ship " that exist in camel knee but he is depraved people . The sign actually meant kekhusyu'an " ( History Bayhaqi in Sunan Kubro No. 3702 )
From Ibn 'Umar , he saw there a man prostrate on his forehead are scars . Ibn Umar said , "O servant of Allah, that one's appearance lies in his face . You should not speak ill of your looks ! " (Reported by al-Bayhaqi in Sunan Kubro No. 3699 ) .
Nadhr of Abu Salim , a man who came to Ibn Umar . After greeting the people , Ibn 'Umar asked him , " Who are you ? " . " I was a child asuhmu " , the man replied . Ibn 'Umar saw no trace of prostration black between the eyes . He said to him , " Used what is in between your eyes ? Indeed, I have long been friends with the Prophet , Abu Bakr , Umar and Uthman . Did you see the scars on my forehead there ? " (Reported by al-Bayhaqi in Sunan Kubro No. 3698 )
The commentators generally expressed that " looks on their faces from the former prostration " ( Surah Al- Fath [ 48 ] : 29 ) is on their faces look their faith and purity of heart.
Certainly not everyone who has a black mark former prostrate between the eyes or on the forehead are Khawarij .
According to Al - Hasan Al- Basri , Khawarij are hypocrites that likes to show signs of worship but depraved as arrogant and feel more clever than others
Prophet said : " Pride is rejecting the truth and underestimate others . " ( Saheeh , HR . Muslims no. 91 of hadith Abdullah bin Mas'ud )
Prophet sallallaahu alaihi wasallam said , " There is no person enter Paradise in whose hearts there is a mustard seed of pride . vanity is rejecting the truth and underestimating the human " ( Narrated by Muslim )
In a hadith Qudsi , the Prophet sallallaahu alaihi wasallam said , " Allah said , is the greatness and the vanity is my sarong clothes . Whoever took it ( from me ) then I torture him " . (Narrated by Muslim )
Prophet sallallaahu ' alaihi wasallam said : " Glory is His gloves and scarves His vanity is . Those who oppose me , then I will mengadzabnya . " (Muslim)
A man asked the Prophet sallallaahu alaihi wasallam " Muslim experts is how most good ? " " When others do not ( threatened ) hurt by the hand and his tongue ," replied the Prophet sallallaahu alaihi wasallam .
Prophet sallallaahu aliahi wasallam said , "no straight faith of a servant so that his heart straight , and there is no heart so straight tongue straight " . ( Narrated by Ahmad )
Sayyidina Umar advised , " Do not ever be fooled by the cries of a person ( propaganda voice / tone loud) . But let's face it people who convey trust and do not hurt others with his hands and tongue "Sayyidina Umar also advises" People who do not have the following three cases , means that faith is not useful . Three cases are polite when reminding others ; wara that keep him away from things that are haram / ​​forbidden , and noble character in society ( associate ) " .